Mohon Maaf Lahir Batin

September 28, 2008

Tak terasa, Ramadhan berada di ujung jalan. Lapar dan dahaga menjadi teman akrab kita di Bulan Ramadhan. Akhirnya sebulan sudah kita berpuasa. Mudah-mudahan segala amal ibadah kita diterima di sisi-Nya. Mudah-mudahan kita masih bisa merasakan Ramadhan-Ramadhan berikutnya.

Tibalah menuju hari kemenangan. Hari dimana Umat Muslim, merayakan kemenangan mereka setelah sebulan penuh berpuasa menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu bersama keluarga tercinta. Indah rasanya berkumpul dengan orang-orang terkasih di hari yang fitri. Apalagi untuk mereka yang hanya dapat berkumpul dengan orang-orang tercinta di saat hari lebaran saja. Benar-benar suatu momen yang membahagiakan.

Begitu besarnya hasrat untuk berkumpul dengan keluarga dan orang-orang terkasih di saat Hari Lebaran menyebabkan adanya budaya mudik pada saat Lebaran. Mudik, merupakan suatu budaya yang mungkin hanya terjadi di Indonesia saja. Di negara-negara yang berpenduduk Muslim yang lain, bahkan di negara Islam pun, tidak ada budaya mudik. Dan rasa-rasanya ini merupakan suatu kunikan budaya kita sendiri yang berakar dari tingginya rasa kekeluargaan dan silaturahmi bangsa ini.

Rasa kekeluargaan yang tinggi yang masih membudaya di bangsa ini idealnya pula dibarengi dengan rasa saling memaafkan. Meminta maaf kepada orang yang telah kita zalimi, yang telah kita lukai baik fisik maupun perasaannya, baik sengaja maupun tidak sengaja. Kita juga harus berjiwa besar untuk memberikan maaf kepada orang yang telah menyakiti kita, apalagi jika orang tersebut telah meminta maaf. Tidak ada dosa sesama manusia, apabila kita telah saling memaafkan. Dan jika itu terjadi, kemenangan yang sebenarnya memang milik kita yang berjiwa besar.

Penulis juga ingin meminta maaf kepada semua, khususnya para masyarakat dunia maya (internet), Jika ada salah baik sengaja maupun tidak disengaja dalam tulisan-tulisan maupun yang lainnya. Sedikit pantun dari penulis :

Ke kota Jakarta Malam Takbiran

Pulang Pergi Naik Motor

Ga terasa udah Lebaran

Maafkanlah hati yang kotor


Noda Yang Biasa di Bulan Puasa

September 17, 2008

Kemaren, disiarkan di Televisi bahwa 21 orang meninggal dunia, dan belasan lainnya dirawat di Rumah Sakit dikarenakan berdesak-desakan dan terinjak-injak saat mengantri untuk mengambil zakat. Sungguh sesuatu yang Ironis. Pembagian zakat yang seharusnya untuk mensejahterakan si Penerima Zakat, malah berakhir tragis bahkan menyebabkan kematian. Tahun-tahun lalu juga seperti ini, cuma tidak separah ini. Pihak penyelenggara seharusnya lebih memperhatikan teknis dan prosedur pemberian zakat kepada si fakir. Seumpama duit yang banyak dibuang begitu saja ke tengah-tengah orang miskin, tentu akibatnya bukan kemaslahatan, malah terjadi kericuhan, saling berebut, saling sikut, saling injak, sehingga menimbulkan korban. Hal itu wajar, dikarenakan kondisi si fakir miskin yang memang sangat menderita, sehingga apabila ada bantuan ekonomi sedikit, mereka langsung ingin cepat-cepat mendapatkannya. Begitu pula pemberian zakat, seharusnya dilakukan dengan teknis yang matang sehingga masyarakat yang menerima tidak harus antri berdesak-desakan.

Beberapa hari yang lalu juga diberitakan bahwa 6 bocah tewas tenggelam di kali Tangerang. Sebelumnya mereka tawuran dengan beberapa orang pemuda di kampung tetangga. Para pemuda tanggung itu melakukan aksi tawurannya setelah shalat subuh dengan menggunakan petasan dan beberapa senjata. Hal yang sepertinya khas terjadi di Bulan Suci. Ketika polisi datang, mereka berhamburan melarikan diri. Beberapa pemuda malah nekat melompatkan ke sungai untuk menghindari tangkapan polisi. ‘Malang tak dapat diraih untung tak dapat ditolak’. Lumpur yang terdapat di dalam kali menyebabkan mereka sulit untuk berenang. Walhasil, tewaslah mereka.

Kejadian tawuran sangat sering terjadi dimana-dimana. Dan anehnya hanya terjadi di Bulan Puasa. Seperti memang sudah trend. Seolah-olah puasa mengajarkan kejahatan? Para pemuda yang kebanyakan ABG (Anak Baru Gede) biasanya jalan bersama gerombolan mereka ke tempat keramaian yang biasa di jadikan ajang kumpul, seperti daerah taman perumahan, alun-alun, dsb. Disana mereka menyalakan petasan, bahkan saling lempar petasan. Hal tersebut biasanya memang selalu diakhiri dengan tawuran antar pemuda kampung, seperti sudah diniatkan.

Kebiasaan lain yang juga salah dan biasa terjadi pada Bulan Puasa adalah balap liar. Sepertinya tidak boleh ada jalan mulus dan lurus sedikit, langsung saja dijadikan tempat balapan. Merka tidak berfikir bahaya yang dapat terjadi dari balapan liar tersebut yang tentu saja tidak hanya merugikan dirinya tetapi juga orang lain. Banyak sekali kejadian dimana para pelaku balapan tersebut tewas secara mengenaskan, baik terjatuh, menabrak, ataupun tertabrak. Yang lebih miris lagi, hal tersebut terjadi pada saat bulan puasa menjelang lebaran. Sungguh sempurna duka keluarga korban ketika mereka harus merayakan hari kemenangan (lebaran) dengan anggota keluarga yang tidak komplit. Kebiasaan tersebut disamping merugikan diri sendiri, juga sangat mengganggu pengguna jalan yang lainnya.

Yang tak kalah parah terjadi di Bulan Suci adalah maraknya peredaran makanan sampah dan berpenyakit. Seperti yang sering kita dengar di media dan mungkin pernah kita alami, yaitu maraknya praktek penjualan daging suntik alias daging gelonggongan, daging sampah, makanan kadaluarsa, dsb. Kerap kali mewarnai datangnya hari lebaran. Hal ini merupakan praktek licik para pedagang pencari keuntungan sesat yang memanfaatkan momen besar (lebaran). Kejadian seperti ini tentu saja meresahkan kalangan konsumen. Sudah harga naik, ditambah pula isi yang tidak sehat.

Sebuah pertanyaan menilik hati. Kenapa harus selalu di Bulan Puasa? Kenapa justru kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut, selalu terjadi di Bulan yang seharusnya dipenuhi dengan amalan ibadah ini. Akankah Bulan Ramadhan hanya sekedar simbol belaka yang kehilangan makna. Akankah kita akan menjadi orang yang terlalu asyik dengan selalu menurutkan ego kita sehingga kita akan melupakan nilai yang sebenarnya dan pada akhirnya kita akan kehilangan jati diri kita sebagai makhluk yang beradab. Tidak bisakah semua pihak menahan diri, menekan ego, dan berusaha melawan hawa nafsu. Setidak-tidaknya, Coba Berusaha. Mudah-mudahan kebiasaan buruk yang minus manfaat dapat terhapus dan tidak lagi menjadi ‘Noda yang biasa di Bulan Puasa.’


Tukang Parkir Musiman

September 7, 2008

Barusan gw ke Alfamart yang berlokasi dekat dengan rumah gw. Seperti biasa, gw selalu ke mini market ini untuk sekedar membeli minuman atau snack. Yah itung-itung pengganti warung yang jajanannya kurang komplit. Tapi ada hal yang engga biasa. Ya, hal yang engga biasa terjadi di bulan-bulan selain bulan puasa. Tukang Parkir Musiman.

Entah kenapa gw ngerasa bete ketika ada tukang parkir yang memang tidak perlu ada tukang parkirnya. Gw ngerasa bete ketika parkir yang memang gratis, kini mesti bayar kepada orang yang cuma duduk-duduk sambil ngerokok dan ngobrol sama temen-temennya di areal parkir. Gw ngerasa bete karena sebenarnya tempat parkir itu juga engga penuh kendaraan, bahkan sangat sedikit kendaraan dan engga perlu pengaturan petugas parkir ilegal. Gw ngerasa bete karena mereka emang engga ngapa2in selain minta duit. Dan yang lebih bete lagi gw harus bayar parkir Rp. 1000, padahal gw cuma beli minuman kaleng Rp. 5000 dan itupun engga lama-lama ninggalin kendaraan, paling cuma 3 menit. Grrrrrr…..apa bedanya sama dipalak. Tampangnya juga sama kaya preman kampung. Cuma caranya aja lebih halus.

Gw engga tau mulai dari bulan puasa kapan tradisi seperti ini berjalan. Hal ini sering juga gw jumpai di mini market lainnya. Sepertinya pengelola mini market juga merestui tindakan mereka. Entah bagaimana pertimbangan pengelola mini market yang mengizinkan tukang parkir musiman ini untuk mencari nafkah. Tetapi yang jelas adanya jasa parkir yang memang tidak diperlukan, apalagi untuk sekelas mini market (warung modern) yang memang sudah akrab dengan masyarakat untuk membeli kebutuhan sehari-hari maupun snack, adalah suatu hal yang mengganggu dan merugikan. Banyak orang yang ke mini market cuma beli obat sakit kepala atau lainnya yang memang habis/tidak ada di warung. Lantas orang yang cuma beli obat sakit kepala Rp.2.500 itu harus bayar parkir Rp.1000. No Make Sense. Mungkin bisa nambah sakit kepala tuh orang.


Chip yang ditanam pada Manusia

August 31, 2008

Chip yang ditanam pada Manusia

Diberitakan di Koran Kompas 23/8 bahwa kasus penculikan di Meksiko melonjak 40 persen selama periode 2004 hingga 2007. Pokoknya, penculikan di Meksiko tak ubahnya dengan kasus penculikan di Kawasan konflik. Kondisi tersebut membuat banyak orang kaya di Meksiko memborong chip yang bisa di tanam di balik kulit manusia untuk bisa memastikan keberadaan sanak keluarga mereka. Pemicu peambelian chip berharga ribuan dollar AS itu adalah setelah belum lama ini Fernando Marti yang berumur 14 tahun, putra seorang pebisnis top di Meksiko diculik dan dibunuh. Akibatnya, pemburuan atas chip keluaran Xega, perusahaan jasa keamanan Meksiko melonjak 13 persen pada tahun ini.

Seperti diberitakan, chip sebesar sebutir beras itu bisa diinjeksi ke balik kulit manusia. Alat tersebut lantas mengirimkan sinyal ke satelit untuk menunjukkan posisi keberadaan si pemakai. Bukan apa-apa orang kaya di sana lebih memilih membeli chip seharga 4000 dollar AS atau sekitar 38 juta rupiah ditambah iuran tahunan sebesar 2200 dollar AS atau seharga 20 juta rupiah ketimbang beresiko harus membayar uang tebusan penculikan yang bisa berlipat ganda jika sampai terjadi.

Waduh ada-ada aja ya. Chip yang biasanya ditanam pada kendaraan untuk melacak keberadaan kendaraan agar tidak hilang dan tersesat, kini ditanam di manusia. Berminat? Siapa tahu aja mau ditanam di pasangan masing-masing agar bisa selalu terlacak dan engga selingkuh. Hehehehehe….


Saat Aku Lanjut Usia

August 29, 2008

Udah lama gw engga ke rumah Nenek gw. Padahal jarak rumah kami engga jauh, satu RW tetapi beda RT. Tetapi apa mau dikata, walaupun jarak rumah kami dekat, tetapi kalau cucu yang kurang ajar ini memang malas berkunjung tetaplah engga ada pengaruhnya dengan jarak. Maafkan cucumu ini, Nek.

Suatu malam gw disuruh nganterin berkat (bungkusan makanan pada acara2 pengajian) ke rumah Nenek. Akhirnya gw bergegas kesana. Ya sekalian silaturahmi udah lama engga ngobrol-ngobrol sama Nenek. Sampai disana Nenek sedang duduk santai dengan seorang Anaknya (Bibi) dan Menantunya beserta kedua cucunya yang masih kecil. Tak lama berselang setelah gw memberikan berkat tersebut, kamipun terlarut dalam obrolan.

Gw pindah untuk duduk didepan teras. Lalu Nenekpun menghampiri. Kami terlibat berbagai obrolan mulai dari kondisi kesehatan Nenek yang semakin menurun sampai pada kabar para saudara yang ada di kampung ini. Terlihat jelas kerutan-kerutan di wajahnya dengan rambut yang memutih dan gigi yang tidak asli lagi semuanya. Ia banyak bercerita tentang kondisi tubuhnya yang semakin menurun, badannya yang sering pegal-pegal, kaki dan tangannya yang semakin sulit digerakkan, dsb. Setiap Minggu Nenek harus berobat dan terapi agar otot-ototnya dapat terus digerakkan.

Di malam ini. Di teras yang remang-remang ini. Berdua dengan Nenek. Sejenak pikiran gw melesat ke angkasa dan membayangkan. Bagaimana Saat Aku Lanjut Usia (Lagu Sheila on 7)? Akankah sama dengan Nenek? Akankah gw juga merasakan kesehatan yang terus menurun? Akankah gw selalu mengeluhkan kondisi kesehatan gw? Oh..tidak, itu jika ada orang yang bisa dijadikan tempat berkeluh kesah. Bagaimana jika tidak ada seorangpun yang dapat dijadikan tempat keluh kesah? Bagaimana jika anak-anak kita sibuk dengan urusan rumah tangganya masing-masing? Bagaimana jika cucu kita sibuk dengan urusannya masing? Bagaimana jika Istri/Suami kita telah lebih dulu dipanggil yang Kuasa? Tinggal kita sendiri. Sendiri sebagai seorang Kakek atau seorang Nenek. Seorang Kakek atau Nenek yang kesepian.

Banyak kejadian dimana Kakek dan Nenek hidup sendiri. Mereka seolah-olah dijauhkan dari anak-anak dan cucu-cucu mereka. Bahkan dengan alasan tertentu mereka dikirim ke panti jompo. Mereka mengisi hidup mereka sendiri. Ya..mengisi hidup yang tinggal beberapa lama lagi sendirian.

Untunglah Nenek gw tinggal dekat dengan anak-anak dan cucu mereka. Silih berganti mereka mengunjungi Nenek yang tinggal satu-satunya. Kejadian ini memberikan pelajaran berharga buat gw bagaimana pentingnya menjaga silaturahmi dengan orang lebih tua yaitu Kakek dan Nenek. Mereka butuh perhatian. Juga kita. Kita yang nanti pada saatnya akan menjadi sama seperti nenek atau kakek kita yang sekarang. Kita yang akan menjadi tua. Kita yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi, apalagi untuk menulis blog. Kita yang lanjut usia. Kita yang hanya butuh perhatian dari orang-orang terdekat, anak dan cucu kita.


Ratapan Sang Pendosa

August 29, 2008

Hamba tak terlalu yakin pandai dalam membantu orang.

Hamba tak terlalu yakin pandai dalam menyenangkan orang.

Hamba tak terlalu yakin pandai dalam menjaga amanah orang.

Hamba tak terlalu yakin pandai dalam segala hal.

Tetapi..

Tetapi Hamba amatlah yakin bahwa Hamba pandai dalam berbuat dosa.

Setiap Detik..

Setiap Menit..

Setiap Jam..

Setiap Hari..

Setiap Minggu..

Setiap Bulan..

Setiap Tahun..

Bahkan Setiap Saat..

Mata ini..

Mulut ini..

Tangan ini..

Kaki ini..

Bahkan otak kotor ini..

Tak pernah luput dari dosa.

Mungkin Hamba adalah Pecandu Dosa.

Hanya Ampunan dan Kasih Sayang-Mu yang dapat menolong Hamba.

Maka..

Ampunilah Hamba.

Walaupun nanti Hamba akan terus berbuat dosa.

Walaupun nanti Hamba akan lupa untuk selalu memohon ampunan-Mu

Ampunilah Hamba.

Karena Hamba adalah Si Pecandu Dosa.

Di Bulan Ramadhan yang suci ini, Hamba berharap..

Ampunilah dosaku..

Ridhoilah Amal Baikku..

Dan Cukupkanlah Kekuranganku..Amin.

——————————————————–zali———————————————————

Marhaban Ya.. Ramadhan..

Selamat Berpuasa

..


dari minyak ke gas eh ke minyak lagi

August 27, 2008

Lucu. Pemerintah maunya apa sih? Kemaren bilang bahwa rakyat harus mulai menyesuaikan dengan kompor gas sebagai substitusi minyak tanah yang semakin mahal. Tapi anehnya, sekarang harga tabung gas malah dinaikin. Bahkan sudah 3 kali mengalami kenaikan dalam 3 bulan. Ini ko’ rakyat seperti dipermainkan. Seperti makan buah si malakama (kedua-duanya sama mahalnya).

Program pemerintah untuk mengkonversi minyak tanah ke gas, benar-benar gagal. Pasalnya, program ini seakan-akan setengah-setangah dilaksanakan. Apapun yang namanya setengah-setengah engga bakalan jadi khan. Dengan alasan harga minyak dunia yang semakin tinggi hingga mencapa 120 US dollar per barel membuat pemerintah tidak mampu lagi menampung subsidi untuk minyak, baik itu minyak tanah, bensin, sollar dsb. Akhirnya pemerintah memutuskan untuk mengurangi subsidi minyak. Adapun minyak tanah saat ini mengalami kelangkaan. Di sekitar rumah gw pun engga ada yang jual minyak tanah. Kalaupun ada minyak tanah, bisa dipastikan harganya selangit.

Marak berita di televisi, kalau banyak penduduk yang mulai beralih ke minyak tanah lagi dengan alasan harga gas semakin naik. Tetapi hal itupun sia-sia karena minyak tanah memang langka dan mahal. So, apa yang bisa dipilih buat rakyat kurang beruntung? Apakah menggunakan gas yang harganya semakin naik yang memang diprediksi oleh pemerintah bakal terus dinaikkan ataukah kembali menggunakan minyak tanah yang engga kalah mahalnya? JELAS. Mereka engga bisa memilih bahkan tidak dalam keadaan memilih. Mereka cuma bisa gigit jari.

Nampaknya memang pemerintah tidak pernah berpihak kepada rakyat. Pemerintah selalu main kucing-kucingan. Entah apapun kebijakan yang seolah-olah dicitrakan baik, pada akhirnya tetap saja menyengsarakan rakyat yang sudah semakin kurus dan sakit-sakitan. Aneh ketika pemerintah tidak dapat berbuat apa-apa untuk menanggulangi kenaikan harga gas yang untuk tabung 12 kg saja bisa mencapai antara Rp.75 ribu - Rp.110 ribu. Apalagi sering sekalinya Pemerintah mengungkapkan statementnya yang berbunyi, “kita serahkan saja mekanismenya kepada pasar”. Mampukah rakyat Indonesia yang kebanyakan berdaya beli submarginal ini membeli dengan harga pasar.

Gw menganalogikan kondisi rakyat sekarang ini seperti seekor kerbau yang dicocol hidungnya. Apapun yang dilakukan pemerintah, rakyat engga bisa berbuat apa-apa, selain, manut, nurut, ngangguk, dan pasrah. Dinaikkan harga BBM, OK. Disuruh pindah dari minyak tanah ke gas, OK. Ketika semua sudah beralih ke gas, lalu dinaikkan pula harga gas, jawab rakyat tetap OK. Mirip lagunya T2 yang OKE. Ah.. nampaknya sabar yang luar biasa yang harus diterapkan rakyat pada kondisi sekarang ini. Berbagai kenaikan harga terus akan berlanjut seiring naiknya harga minyak tanah dan gas terutama harga makanan dan minuman. Mungkin inilah ‘hadiah’ Ramadhan untuk rakyat. Tetapi percayalah, ‘BADAI PASTI AKAN BERLALU’.


OPTIMIS pangkal Keberhasilan…!

August 27, 2008

Setiap langkah tidak berarti jika kita tidak OPTIMIS.

Sebuah pemikiran tidak akan terlaksana jika kita tidak OPTIMIS.

OPTIMIS menjadikan manusia mampu menggapai masa depan.

OPTIMIS adalah bahan bakar manusia untuk maju.

Jadikan sikap OPTIMIS bersemayam dalam hati.

Tidak ada yang tidak mungkin bagi…

ANDA YANG BERJIWA OPTIMIS


Dikutip dari cover buku GRAFINDO


Anugerah Terbesar. Kemerdekaan…!

August 18, 2008

Apa arti merdeka? Jujur, gw sendiri engga tahu apa arti merdeka yang sesungguhnya baik menurut tataa bahasa maupun etimologinya. Secara sederhana, ‘merdeka’ dapat gw identikan dengan ‘bebas’. Menurut gw merdeka adalah bebas. Bebas dari segala belenggu yang membelenggu hak-hak kita.

Kemerdekaan merupakan suatu kata yang mudah untuk dikatakan. Karena itu, sering kali tidak kita syukuri. Padahal kemerdekaan yang kita nikmati sekarang ini adalah Anugerah dari Allah SWT atas hasil jerih payah pengorbanan para pahlawan. Mereka (para pahlawan) tidak dengan mudah layaknya cuma meminta kemerdekaan kepada para penjajah, tetapi mereka memperjuangkannya. Mereka memperjuangkan merebut kemerdekaan dengan mengorbankan jiwa dan raga. Mereka merelakan setiap putaran waktu, butiran keringat, hembusan nafas, untuk bangsa dan negara. mereka juga tidak menuntut apa-apa dari perjuangannya, melainkan hany satu, KEMERDEKAAN. Kemerdekaan yang walaupun tidak bisa mereka rasakan tetapi setidaknya dapat dirasakan kelak oleh anak, cucu, dan generasi penerus bangsa.

Sedikit berimajinasi. Coba bayangkan jika kita tidak merdeka dari penjajahan. Seberapa banyak kebahagiaan yang dapat kita rasakan? Seberapa besar kebebasan yang dapat kita miliki? Seberapa tinggi harga diri dapat kita junjung tinggi? Bayangkan! Bayangkan!Bayangkan! Jika kita tidak merdeka tentu kita tidak akan pintar karena kita kita tidak bebas belajar dan bersekolah, kita juga tidak nyaman untuk keluar rumah, berkumpul dengan teman, dsb, yang pastinya hak-hak kita akan terampas. Bayangkan, jika kita tinggal di Negara Konflik seperti di Palestina, Israel, Irak, Afghanistan, dsb, dimana baku tembak adalah hal yang biasa terjadi, dimana jika ada salah satu keluarga yang tewas terkena peluru atau bom bunuh diri adalah hal yang wajar, dimana untuk berada didalam rumahpun kita akan ketakutan. Kebebasan merupakan barang amat langka disana.

Untung kita di Indonesia. Disebuah negara yang berdaulat dan telah merdeka sejak 63 tahun yang lalu. Untung..! Untung..! Untung..! kita tidak perlu khawatir untuk keluar rumah, kita juga bebas belajar, bekerja, bermain, pergi ke warnet untuk sekedar chatting atau nulis blog kaya gw, nge-band, dsb. Yang terlebih penting lagi kita bebas untuk beribadah. Poko’nya kita benar-benar merdeka. Kita bisa dengan bebas beribadah, tidak seperti di Palestina, dimana dulu PM Yaser Arafat semasa hidup harus selalu shalat dengan pistol di pinggangnya. Poko’nya kita Merdeka..!

Anugerah terbesar sang Pencipta kepada makhluknya adalah kebebasan. Bedanya adalah ada yang mendapatkannya begitu saja dan ada yang harus memperjuangkannya terlebih dahulu. Bangsa Indonesia termasuk bangsa yang mendapatkan kemerdekaan dengan cara berjuang merebut kemerdekaan dari para penjajah. Tetapi enaknya, bukan kita yang memperjuangkannya khan. Melainkan para pahlawan kita yang dengan sukarela memperjuangkannya. Ini berarti kita termasuk orang yang mendapatkan anugerah kemerdekaan begitu saja, yang karena kegigihan dan pengorbanan para pahlawanlah kita merdeka. Alangkah beruntungnya kita.

Sesekali gw merenung untuk mencoba mengingat. Bukan, lebih tepatnya mencoba untuk membayangkan bagaimana para pahlawan begitu rela berkorban jiwa dan raga untuk bangsa dan negara. bagaimana mereka bisa mencintai bangsa dan negara ini sedemikian cintanya, hingga semangat dan idealismenyapun hanya untuk negara. Bagaimana mereka bisa mengutamakan kepentingan bangsa dan negara jauh di atas kepentingan pribadi. Mungkin itulah yang disebut Pahlawan. Seseorang anak bangsa yang tidak dapat dibentuk, tetapi tumbuh bersama bangsa itu sendiri. Akhirnya gw ucapkan Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, kita merdeka. Terimakasih Para Pahlawan, atas segala jasamu akhirnya kami dapat dengan bebas berkata, MERDEKA..! MERDEKA..! MERDEKA..!


Belum Gawe Ko’ Nikah

August 4, 2008

Barusan temen gw ngundang untuk datang ke pesta pernikahannya. Udah lama juga kita engga ketemu, ya sekitar 4 tahun, selepas lulus SMA. Tampangnya masih sama seperti waktu SMA, cuma sekarang agak mirip Jerry Yan (bintang film mandarin) tapi rambutnya doang. Sekilas gw teringat tentang tingkahnya yang konyol sewaktu SMA. Tingkahnya yang mirip orang bener (berarti dia gila dong!) Ya mungkin bisa dibilang begitu. Hehe..just kidding. Tapi asli, kelakuannya sewaktu di sekolah bener-bener konyol. Didalam kelas dia engga pernah diam, selalu ada aja bahan ocehan. Malahan pernah ketika anak-anak sedang konsentrasi belajar di kelas, dia menirukan gaya orang yang sedang mengendarai mobil dan kemudian ditilang polisi. Spontan anak-anak ketawa. Konyol..!

Kita ngobrol sebentar di depan rumah gw. Dia bercerita kalau dia sudah menyebarkan undangan ke anak-anak alumni yang lain. Dia juga bercerita kalau dirinya belum kerja tetapi sudah disuruh untuk cepat kawin. Desakan dari pihak calon mertua. Sejenak gw berfikir. Apa ini memang lagi musimnya orang pengangguran yang nekad nikah ya?

Belum sampai setahun yang lalu, temen gw se-RT juga nikah, itupun dia juga belum gawe. Belum genap sebulan, temen gw se-RW juga nikah, itupun dia juga masih nganggur. Apa emang udah engga tahan ya? Ataukah accident? Yah itu sih urusan mereka. Yang jelas gw cuma menganalisa apakah emang trend-nya sekarang lagi musim pengangguran yang nekad kawin? Soalnya akhir-akhir ini memang ini yang terjadi dikalangan temen-temen gw.

Ada yang pernah bilang ‘menikah itu membuka pintu rezeki’. Ya, rasanya memang benar. Soalnya dengan menikah seorang laki-laki akan mempunyai rasa tanggung jawab yang besar untuk mengurusi keluarganya, dan ini bisa dijadikan motivasi yang kuat untuk berusaha mencari kerja. Alhasil, temen gw yang sudah 4 tahun menganggur, ketika sudah menikah kini mendapatkan pekerjaan. Memang rezeki itu sudah ada yang mengatur.

Di zaman yang serba susah ini, susah sekali mencari pekerjaan. Tidak ada jaminan dari sebuah gelar. Semuanya sama saja. Mau yang lulusan SD, SMP, SMA, S1, S2. Semuanya sama saja. Semuanya berpulang kepada seberapa besar usaha kita dan seberapa besar koneksi kita. Gw rasa pilihan menikah bagi para pengangguranpun sudah menjadi hal yang wajar. Disamping lebih cepat menikah lebih baik untuk menghindarkan maksiat, juga dengan cepat menikah dapat membuka pintu rezeki. Yang pasti satu hal. ‘kalau nungguin mapan dulu di zaman sekarang, kapan nikahnya?’ Maybe Yes, Maybe No.