Kemaren, disiarkan di Televisi bahwa 21 orang meninggal dunia, dan belasan lainnya dirawat di Rumah Sakit dikarenakan berdesak-desakan dan terinjak-injak saat mengantri untuk mengambil zakat. Sungguh sesuatu yang Ironis. Pembagian zakat yang seharusnya untuk mensejahterakan si Penerima Zakat, malah berakhir tragis bahkan menyebabkan kematian. Tahun-tahun lalu juga seperti ini, cuma tidak separah ini. Pihak penyelenggara seharusnya lebih memperhatikan teknis dan prosedur pemberian zakat kepada si fakir. Seumpama duit yang banyak dibuang begitu saja ke tengah-tengah orang miskin, tentu akibatnya bukan kemaslahatan, malah terjadi kericuhan, saling berebut, saling sikut, saling injak, sehingga menimbulkan korban. Hal itu wajar, dikarenakan kondisi si fakir miskin yang memang sangat menderita, sehingga apabila ada bantuan ekonomi sedikit, mereka langsung ingin cepat-cepat mendapatkannya. Begitu pula pemberian zakat, seharusnya dilakukan dengan teknis yang matang sehingga masyarakat yang menerima tidak harus antri berdesak-desakan.
Beberapa hari yang lalu juga diberitakan bahwa 6 bocah tewas tenggelam di kali Tangerang. Sebelumnya mereka tawuran dengan beberapa orang pemuda di kampung tetangga. Para pemuda tanggung itu melakukan aksi tawurannya setelah shalat subuh dengan menggunakan petasan dan beberapa senjata. Hal yang sepertinya khas terjadi di Bulan Suci. Ketika polisi datang, mereka berhamburan melarikan diri. Beberapa pemuda malah nekat melompatkan ke sungai untuk menghindari tangkapan polisi. ‘Malang tak dapat diraih untung tak dapat ditolak’. Lumpur yang terdapat di dalam kali menyebabkan mereka sulit untuk berenang. Walhasil, tewaslah mereka.
Kejadian tawuran sangat sering terjadi dimana-dimana. Dan anehnya hanya terjadi di Bulan Puasa. Seperti memang sudah trend. Seolah-olah puasa mengajarkan kejahatan? Para pemuda yang kebanyakan ABG (Anak Baru Gede) biasanya jalan bersama gerombolan mereka ke tempat keramaian yang biasa di jadikan ajang kumpul, seperti daerah taman perumahan, alun-alun, dsb. Disana mereka menyalakan petasan, bahkan saling lempar petasan. Hal tersebut biasanya memang selalu diakhiri dengan tawuran antar pemuda kampung, seperti sudah diniatkan.
Kebiasaan lain yang juga salah dan biasa terjadi pada Bulan Puasa adalah balap liar. Sepertinya tidak boleh ada jalan mulus dan lurus sedikit, langsung saja dijadikan tempat balapan. Merka tidak berfikir bahaya yang dapat terjadi dari balapan liar tersebut yang tentu saja tidak hanya merugikan dirinya tetapi juga orang lain. Banyak sekali kejadian dimana para pelaku balapan tersebut tewas secara mengenaskan, baik terjatuh, menabrak, ataupun tertabrak. Yang lebih miris lagi, hal tersebut terjadi pada saat bulan puasa menjelang lebaran. Sungguh sempurna duka keluarga korban ketika mereka harus merayakan hari kemenangan (lebaran) dengan anggota keluarga yang tidak komplit. Kebiasaan tersebut disamping merugikan diri sendiri, juga sangat mengganggu pengguna jalan yang lainnya.
Yang tak kalah parah terjadi di Bulan Suci adalah maraknya peredaran makanan sampah dan berpenyakit. Seperti yang sering kita dengar di media dan mungkin pernah kita alami, yaitu maraknya praktek penjualan daging suntik alias daging gelonggongan, daging sampah, makanan kadaluarsa, dsb. Kerap kali mewarnai datangnya hari lebaran. Hal ini merupakan praktek licik para pedagang pencari keuntungan sesat yang memanfaatkan momen besar (lebaran). Kejadian seperti ini tentu saja meresahkan kalangan konsumen. Sudah harga naik, ditambah pula isi yang tidak sehat.
Sebuah pertanyaan menilik hati. Kenapa harus selalu di Bulan Puasa? Kenapa justru kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut, selalu terjadi di Bulan yang seharusnya dipenuhi dengan amalan ibadah ini. Akankah Bulan Ramadhan hanya sekedar simbol belaka yang kehilangan makna. Akankah kita akan menjadi orang yang terlalu asyik dengan selalu menurutkan ego kita sehingga kita akan melupakan nilai yang sebenarnya dan pada akhirnya kita akan kehilangan jati diri kita sebagai makhluk yang beradab. Tidak bisakah semua pihak menahan diri, menekan ego, dan berusaha melawan hawa nafsu. Setidak-tidaknya, Coba Berusaha. Mudah-mudahan kebiasaan buruk yang minus manfaat dapat terhapus dan tidak lagi menjadi ‘Noda yang biasa di Bulan Puasa.’